Popular Posts

Showing posts with label churchhistory. Show all posts
Showing posts with label churchhistory. Show all posts

Monday, March 25, 2013

APAKAH GEREJA ANDA MEMPERBOLEHKAN ANDA MENIRU CARA HIDUP YESHUA ?

APAKAH GEREJA ANDA MEMPERBOLEHKAN ANDA MENIRU CARA HIDUP YESHUA ?
Andre Widodo
© ORI



Shalom,

Apakah gereja Anda memperbolehkan Anda mengikuti cara hidup Yeshua ?

Apakah kepercayaan orang ini bila ia melakukan hal-hal berikut ?
- Memelihara Sabat pada hari Sabtu.
- Merayakan hari raya Pesach, Cag Ha-Matzah (roti Tidak Beragi), Sukkot (Pondok Daun), Chanukah (Penyucian Bait Suci)
- Mengenakan tzitzit (jumbai pada jubah) seperti yang diperintahkan dalam Taurat (Bil 15:37-41).
- Kitab sucinya terdiri atas Torah dan Kitab para nabi.
- Mengerjakan perintah-perintah yang ada di dalam Torah.
- Mengajarkan bahwa Shema (Ul 6:4-5) adalah hukum yang paling utama.
- Pergi ke sinagog secara teratur.

Saya bisa menebak bahwa kebanyakan dari Anda pasti akan dengan mudah menjawab – Yahudi.

Sekarang mari kita lihat, apakah Anda juga dapat menebak apakah kepercayaan orang ini ?
- Tidak memelihara Sabat tetapi merayakan hari Minggu sebagai hari Tuhan. - Datang ke gereja.
- Merayakan hari raya Easter dan hari raya Natal 25 Desember.
- Kitab sucinya terdiri atas "Perjanjian Lama" dan "Perjanjian Baru".
- Mengajarkan bahwa mereka tidak lagi di bawah Torah.
- Mengajarkan bahwa Gereja adalah pengganti Israel sebagai umat Tuhan.

Saya yakin jawaban Anda tepat sekali lagi – Kristen.

Sekarang mari kita lanjutkan pembicaraan kita lebih dalam lagi dengan menjawab pertanyaan ini :

"Jika seorang Yahudi ingin menjadi seorang Kristen, dapatkah ia tetap melanjutkan tata-cara ibadah Yahudinya ? Jawabannya 100% – TIDAK!"

Bagaimana bila sebaliknya ?

"Jika seorang Kristen ingin menjadi seorang Yahudi, dapatkah ia tetap melanjutkan tata-cara ibadah Kristennya ? Sekali lagi jawabannya 100% – TIDAK!"

Sangat jelas sekali bahwa bukan saja Yahudi dan Kristen merupakan agama yang berbeda, tetapi juga mereka saling berlawanan satu dengan yang lain dalam banyak hal.

Ini merupakan fakta yang sangat mengherankan bila kita mencoba mengajukan lagi satu pertanyaan sederhana :

"Tata-cara ibadah apakah yang dipraktekkan oleh Yeshua selama hidupnya, Kristen, Yahudi, atau kedua-duanya ?"

- Yeshua disunat pada hari kedelapan (Luk 2:27).
- Yeshua memelihara Sabat, yaitu hari Sabtu.
- Yeshua datang dan mengajar di sinagoga secara teratur (Mat 4:23, Mrk 1:21, Luk 4:16,31).
- Yeshua merayakan Pesach, Chag Ha-Matzah (Mat 26:17; Mrk 14:12; Luk 2:41-42; 22:7-8; Yoh 2:13,23;),
Sukkot (Yoh 7:1-44) dan Chanukah (Yoh 10:22-23).
- Yeshua mengenakan tzitzit (Mrk 6:56).
- Yeshua adalah warganegara Israel (Mat 2:2; 27:37; Yoh 4:9).
- Kitab suci yang dipergunakan Yeshua terdiri atas Taurat dan Kitab para nabi.
- Yeshua mengajarkan bahwa Shema adalah hukum yang paling utama (Mrk 12:29-30).

Jawaban dari pertanyaan di atas merupakan sebuah fakta biblikal (Alkitabiah) bahwa Yeshua adalah seorang Yahudi, memeluk agama Yahudi (Judaisme), hidup menurut tata-cara orang Yahudi, bukan menurut tata-cara Kristen, atau gabungan dari keduanya.

Adalah sangat jelas bahwa Yeshua adalah seorang Yahudi Orthodoks yang amat taat dalam menjalankan agama (sebab jika Ia sendiri tidak memberikan teladan yang baik, tidak ada gunanya kita percaya Dia sebagai Mesias).

Penemuan terpenting buat umat Kristen adalah kenyataan bahwa tidak ada bukti Yeshua telah meninggalkan tata-cara hidup orang Yahudi dan berhenti menjadi orang Yahudi.

Juga ajaran-Nya sama sekali tidak menunjukkan bahwa Ia ingin menciptakan agama baru – sebuah agama yang berbeda dengan tata-cara ibadah yang Ia sendiri praktekkan semasa hidup-Nya.

Bagaimana mungkin Ia kemudian disebut-sebut sebagai pendiri agama baru ? Terutama sebuah agama yang bertentangan dengan agama dan tata-cara hidup yang Ia jalani ?

Dapatkah Anda menjawab YA pada pertanyaan-pertanyaan di bawah ini ?

- Mungkinkah seorang Rabbi melarang ibadah sunat ?
- Mungkinkah seorang Rabbi memindahkan hari Sabat ke hari lain ?
- Mungkinkah seorang Rabbi menciptakan tempat ibadah baru selain sinagoga ?
- Mungkinkan seorang Rabbi memindahkan hari raya Pesach (Paskah) ke hari raya dewi Ishtar (Easter) ?
- Mungkinkah seorang Rabbi menginginkan para pengikutnya untuk melestarikan perayaan Natalis Sol Invictus (25 Desember, hari kelahiran dewa matahari) sebagai hari lahirnya ?
- Mungkinkah seorang Rabbi mengajarkan murid-muridnya supaya tidak lagi memelihara Torah ?
- Mungkinkah seorang Rabbi mengajarkan supaya Shema tidak perlu lagi dipanjatkan ?
- Mungkinkah seorang Rabbi mengajarkan pengikutnya untuk membenci Yahudi ?

Jawaban atas semua pertanyaan di atas adalah : TIDAK MUNGKIN!

Tidak ada seorang Rabbi yang melakukannya, termasuk juga seorang Rabbi bernama Yeshua!

Jika Yeshua tidak menciptakan sebuah agama baru yang anti-Yahudi, jadi siapa yang melakukannya ? Apakah itu pekerjaan pengikut- pengikut-Nya ? Apakah mereka tetap meneruskan cara hidup seperti yang dicontohkan Yeshua atau mereka mengubahnya ?

Kitab Kisah Para Rasul menyediakan banyak sekali informasi yang berharga bagi kita. Dalam Kisah Para Rasul 2:41-47 kita melihat bagaimana cara hidup jemaat yang pertama.

Dengan bertekun dan dengan sehati mereka berkumpul tiap-tiap hari dalam Bait Elohim. (Kisah Para Rasul 2:46).

Perhatikan bahwa mereka sama sekali tidak merasa bahwa Yeshua mengajarkan supaya mereka berhenti menjadi Yahudi. Berilah perhatian pada ayat di atas.

Tidakkah Anda melihat bahwa mereka tetap mendatangi Bait Elohim setiap hari ? Dari sini saja kita dapat melihat dengan jelas bahwa Yeshua tidak menginginkan pemisahan para pengikut-Nya dari orang-orang Yahudi lainnya.

Kisah Para Rasul 21:17-26 mencatat kisah kembalinya Sheliach Sha'ul (Rasul Paulus) ke Yerusalem dan pertemuannya dengan para penatua jemaat. Ingat baik-baik bahwa yang disebut dengan para penatua ini adalah orang-orang yang secara langsung diajar dan hidup bersama-sama dengan Yeshua. Dan pemimpin mereka sendiri adalah Ya'acov HaTzaddik (Yakobus), saudara Tuhan Yeshua (Gal 1:19).

Kata-kata yang diucapkan Ya'acov (Yakobus) di depan Sheliach Sha'ul (Rasul Paulus) mengandung informasi yang sangat berharga.

"Saudara, lihatlah, beribu-ribu orang Yahudi telah menjadi percaya dan mereka semua rajin memelihara Taurat. Tetapi mereka mendengar tentang engkau, bahwa engkau mengajar semua orang Yahudi yang tinggal di antara bangsa-bangsa lain untuk melepaskan hukum Musa, sebab engkau mengatakan supaya mereka jangan menyunatkan anak-anaknya dan jangan hidup menurut adat istiadat kita... bawalah mereka bersama-sama dengan engkau...maka semua orang akan tahu, bahwa segala kabar yang mereka dengar tentang engkau sama sekali tidak benar, melainkan bahwa engkau tetap memelihara Taurat." (Kisah Para Rasul 21:20-24)


Sekali lagi Anda bisa membaca sendiri bahwa jemaat yang mula-mula sama sekali tidak meninggalkan tata-cara hidup Yahudi yang selama ini mereka jalani. Bahkan sebaliknya, setelah mereka percaya kepada Yeshua mereka menjadi semakin rajin (zealous) memelihara Torah. Ayat-ayat di atas memberikan kita gambaran bagaimana kehidupan jemaat yang mula-mula.

Apakah gereja Anda menghasilkan buah yang sama: "rajin memelihara Torah" ?

Perhatikan pula bahwa Sha'ul (Paulus) mengerjakan apa yang diminta oleh para penatua – untuk membuktikan bahwa ia tidak mengajarkan untuk melepaskan Torah. Dan itu dilakukannya menurut aturan di dalam Torah yaitu bernazar dan melakukan persembahan (Bil 6:13-21).

Sha'ul (Paulus) tetap hidup menurut Torah dan ia juga seorang yang taat.

Bagaimana mungkin ia menjadi pembuat doktrin yang menganjurkan supaya kita tidak lagi melakukan Torah ?

Pelayanan para rasul menyebabkan ribuan orang-orang Yahudi menjadi taat dalam memelihara Torah. Jelas mereka sama sekali tidak mengajarkan bahwa "kita tidak lagi memelihara Torah karena kita sudah memperoleh kasih karunia" seperti yang sekarang dianut sebagai doktrin oleh banyak gereja masa kini.

Jemaat mula-mula tetap menyunatkan anak-anak mereka dan meneruskan tata-cara hidup Yahudi. Mereka tidak berpindah ke sebuah agama baru. Jika kita menengok tindakan Sha'ul (Paulus), setelah diminta untuk membuktikan bahwa ia tidak mengajarkan pembatalan Torah, kita dihadapkan kepada dua kemungkinan :

(a) Sha'ul (Paulus) dengan sengaja berpura-pura di hadapan para penatua dan jemaat di Yerusalem; atau
(b) ajaran dan tulisan-tulisan Sha'ul (Paulus) telah dimanipulasi dan direkayasa oleh bapak-bapak Gereja pada abad kedua hingga keenam.

Apakah Sha'ul (Paulus) benar-benar hendak membohongi para penatua dengan berpura-pura di hadapan mereka ?

Ingat, para penatua adalah orang-orang yang telah bersama-sama dan secara langsung diajar oleh Rabbi Yeshua selama tiga tahun.

Jika Sha'ul (Paulus) telah membohongi mereka, apakah Anda tetap bersikeras meyakini ajaran dan tulisan-tulisannya ?

Dan sebaliknya, jika perkataan Sha'ul (Paulus) telah diubah atau salah ditafsirkan oleh para bapak Gereja, dapatkah kita mempertahankan iman dan kepercayaan kita kepada ajaran-ajaran palsu ?

Bagaimana ajaran Yeshua dan para pengikutnya bisa berubah dan berkembang seperti sekarang ini ?

Untuk mulai menjawabnya, pertama-tama mari kita bertanya bagaimana sebuah agama yang mengajarkan pengikutnya untuk "memelihara hukum" menjadi sebuah agama yang mengajarkan "kita tidak lagi di bawah hukum".

Para bapa Gereja mengajarkan bahwa Torah telah digenapi dengan kedatangan Yeshua ke dunia. "Digenapi", menurut mereka, berarti Torah telah dibatalkan dan pelaksanaan Torah tidak memiliki arti penting dalam ke-Kristen-an.

Itulah sebabnya mereka memakai istilah "Perjanjian Lama" dan "Perjanjian Baru".

Sangat jelas, yang satu adalah “Lama” dan yang satunya lagi “Baru” sehingga yang lama sudah tidak berlaku lagi dan yang berlaku sekarang adalah yang baru.

Akan tetapi menurut Yeshua, "digenapi" berarti :
(1) tetap memelihara Torah; dan
(2) menafsirkan dan melaksanakannya secara benar sesuai dengan petunjuk dan bimbingan-Nya.

"Janganlah kamu menyangka, bahwa Aku datang untuk meniadakan Taurat atau Kitab para nabi. Aku datang bukan untuk meniadakannya, melainkan untuk menggenapinya. Karena Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya selama belum lenyap langit dan bumi ini, satu iota atau satu titikpun tidak akan ditiadakan dari Taurat, sebelum semuanya terjadi. Karena itu siapa yang meniadakan salah satu perintah Taurat sekalipun yang paling kecil, dan mengajarkannya demikian kepada orang lain, ia akan menduduki tempat yang paling rendah di dalam Kerajaan Sorga; tetapi siapa yang melakukan dan mengajarkan segala perintah-perintah Taurat, ia akan menduduki tempat yang tinggi di dalam Kerajaan Sorga. Maka Aku berkata kepadamu: Jika hidup keagamaanmu tidak lebih benar dari pada hidup keagamaan ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, sesungguhnya kamu tidak akan masuk ke dalam Kerajaan Sorga." (Matius 5:17-20)


Para bapak Gereja dan para pemikir-pemikir Kristen lainnya (yang kebanyakan adalah orang-orang bukan Yahudi) terus menerus mengembangkan doktrin-doktrin mereka sepanjang abad kedua hingga abad keenam Masehi. Selama itu pula pernyataan-pernyataan mereka semakin bernada sarkasme terhadap Yahudi.

Saya kutip satu di antaranya:

"Jika kita masih saja menjalankan Judaisme, kita mengakui bahwa kita belum menerima karunia Tuhan...Adalah salah berbicara tentang Yeshua namun hidup seperti orang Yahudi. Karena Kristen tidak percaya Judaisme tetapi Judaisme di dalam Kristen." (St. Ignatius, uskup Antiokhia (98-117 M) – Surat kepada Jemaat Magnesia)


Semangat anti Yahudi kemudian berkembang hampir di seluruh dunia ke-Kristen-an – dari mulai komunitas Kristen di Afrika, diwakili oleh Tertullianus (160-220 M), pendeta Persia Aphrahat (300-350 M) dari gereja Suriah, St. Yohanes Krisostomus (349-400 M) di Antiokhia, hingga Martin Luther (1483- 1546) dan masih banyak lagi.

Karya-karya tulis mereka banyak yang menyerang umat Yahudi dengan meneriaki mereka "budak- budak yang terbelenggu oleh hukum".

Mereka mengklaim bahwa agama Yahudi dibiarkan terus berlanjut hanya untuk menjadi contoh sebuah degradasi moral dan menyebut orang-orang Yahudi "Christ Killer/Pembunuh Mesias" !

Menurut Anda bagaimana reaksi Yeshua melihat tindakan mereka ini ?

Menarik untuk menyimak perkataan Roland Knox:

"Betapa anehnya Tuhan memilih orang Yahudi! Tetapi lebih aneh lagi orang-orang yang memilih Tuhan-nya orang Yahudi tetapi menolak lalu menghina orang Yahudi!"


Ada beberapa hal yang perlu diingatkan.

Agama Yahudi sekarang telah berkembang jauh dan sangat mungkin tidak sama seperti yang dipraktekkan oleh Yeshua. Begitu pula, agama Kristen yang kita kenal sekarang berbeda dengan ajaran-ajaran Yeshua yang dipercaya dan dijalankan oleh para pengikutnya mula-mula. Jelas sekali bahwa banyak hal telah terjadi sepeninggal Yeshua dan para rasul-Nya yang mengakibatkan terpisahnya Kristen dari Yahudi.

Sangat penting bagi keduanya, baik umat Kristen maupun umat Yahudi untuk memahami perubahan- perubahan yang ada. Anda harus mengetahui kapan perubahan itu dibuat, siapa orang yang bertanggung jawab membuat perubahan itu, dan mengapa mereka melakukannya.

Selidikilah mana perubahan yang terjadi karena inspirasi Roh Kudus, mana yang dibuat karena nafsu keduniawian atas kekuasaan dan kekayaan, dan mana yang dibuat atas dasar rasa amarah, benci, penolakan, dan ketakutan.

Saat ini terdapat sekitar 1,6 milyar umat Kristen di seluruh dunia – seorang raksasa yang tengah tertidur dan menunggu untuk dibangunkan. Jika mereka semua kembali kepada ajaran dan tata-cara hidup seperti yang diceritakan dalam Kisah Para Rasul, kita akan melihat revolusi moral dan spiritual yang akan mengguncang dunia.

Apakah gereja Anda memperbolehkan Anda meniru cara hidup Yeshua ?

[1]
Kata rumah ibadat (tempat ibadat) muncul berpuluh-puluh kali dalam "Perjanjian Baru". Kata tersebut diterjemahkan dari kata Yunani συναγωγή [SUNAGOGE] yang secara harafiah memang berarti RUMAH IBADAT. Adalah menarik jika kita menggunakan kata SINAGOG ketimbang RUMAH IBADAT karena hal ini akan memunculkan nuansa yang berbeda. Pembaca akan merasakan hawa Judaisme yang begitu kental dalam seluruh kitab "Perjanjian Baru" !

[2]
Catatan-catatan sejarah juga membuktikan bahwa para pengikut Yeshua mula-mula tetap beribadah bersama-sama dengan orang Yahudi di sinagog, seperti contoh berikut:

"Sepeninggal Dia [Yeshua] murid-muridnya ada bersama-sama dengan orang Yahudi dan Bani Israel di sinagoga-sinagoga, bersembahyang dan berpuasa di tempat yang sama. Tetapi ada perbedaan pendapat antara mereka dan orang Yahudi mengenai Mesias." (Toldot Yeshu – abad keenam)

Baruch HaShem b'Shem Yeshua HaMashiach

ISRAEL DAN GEREJA, APAKAH BERBEDA?

ISRAEL DAN GEREJA, APAKAH BERBEDA?
Andre Widodo
© ORI























Shalom,

Mat 15:24
Jawab Yesus: "Aku diutus hanya kepada DOMBA-DOMBA YANG HILANG DARI UMAT ISRAEL."
NOTE :
Siapakah DOMBA-DOMBA yang MESIAS maksudkan di Mat 15:24? ISRAEL.

Yoh 10:14
Akulah gembala yang baik dan Aku mengenal DOMBA-DOMBA-Ku dan DOMBA-DOMBA-Ku mengenal Aku
NOTE :
Siapakah DOMBA-DOMBA yang MESIAS maksudkan di Yoh 10:14? ISRAEL.

Yoh 10:15
sama seperti Bapa mengenal Aku dan Aku mengenal Bapa, dan Aku memberikan nyawa-Ku bagi DOMBA-DOMBA-Ku.
NOTE :
Siapakah DOMBA-DOMBA yang MESIAS maksudkan di Yoh 10:15? ISRAEL
Mengapa?
Karena ketika Yeshua mengatakan "Aku memberikan nyawa-Ku bagi DOMBA-DOMBA-Ku", Ia sedang berbicara dalam konteks PESACH (PASKAH), yaitu HARI RAYA bagi ISRAEL, ketika ISRAEL menyembelih ANAK DOMBA PESACH.

Kemudian, kita perhatikan ayat selanjutnya...

Yoh 10:16
Ada lagi pada-Ku DOMBA-DOMBA LAIN, YANG BUKAN DARI KANDANG INI; DOMBA-DOMBA itu harus Kutuntun juga dan mereka akan mendengarkan suara-Ku dan mereka akan menjadi satu kawanan dengan satu gembala.
NOTE :
Siapakah DOMBA-DOMBA LAIN yang MESIAS maksudkan di Yoh 10:16, YANG BUKAN DARI KANDANG INI? GEREJA!

Apa yang MESIAS lakukan terhadap GEREJA?
Yoh 10:16
"...DOMBA-DOMBA itu harus Kutuntun juga dan mereka akan mendengarkan suara-Ku dan mereka akan menjadi satu kawanan dengan satu gembala."

GEREJA akan dituntun oleh MESIAS dan menjadi SATU KAWANAN DENGAN DOMBA-DOMBA DARI KANDANG ASLI, dan dengan SATU GEMBALA.

Apakah ISRAEL yang bergabung menjadi GEREJA? atau...
GEREJA yang digabungkan dengan ISRAEL dan menjadi SATU GEMBALA di bawah MESIAS ISRAEL?

Friday, March 15, 2013

SIAPA SEBENARNYA "GEREJA"?

SIAPA SEBENARNYA "GEREJA"?
Andre Widodo

© ORI




 







Shalom,

GEREJA berasal dari bahasa Yunani [εκκλησια - EKKLESIA].

Kata ini muncul pertama kali di dalam Alkitab KJV di Mat 16:18.

Mat 16:18 KJV
And I say also unto thee, That thou art Peter, and upon this rock I will build my CHURCH [εκκλησια - EKKLESIA]; and the gates of hell shall not prevail against it.

Mat 16:18 TB-LAI
Dan Akupun berkata kepadamu: Engkau adalah Petrus dan di atas batu karang ini Aku akan mendirikan JEMAAT [εκκλησια - EKKLESIA]-Ku dan alam maut tidak akan menguasainya.

PERTANYAAN :
Apakah benar kata [εκκλησια - EKKLESIA] baru muncul di Mat 18:16?

Di dalam SEPTUAGINTA (LXX), yaitu TANAKH yang diterjemahkan ke dalam bahasa Yunani, ternyata terdapat juga kata [εκκλησια - EKKLESIA].

Siapakah [εκκλησια - EKKLESIA] di dalam SEPTUAGINTA?

Deu 31:30 LXX
και ελαλησεν μωυσησ εισ τα ωτα πασησ [εκκλησιασ - EKKLESIA] ισραηλ τα ρηματα τησ ωδησ ταυτησ εωσ εισ τελοσ

Deu 31:30 KJV
And Moses spake in the ears of all the CONGREGATION [εκκλησιασ - EKKLESIA] of Israel the words of this song, until they were ended.

Ula 31:30 TB-LAI
Lalu Musa menyampaikan ke telinga seluruh JEMAAH [εκκλησιασ - EKKLESIA] Israel nyanyian ini sampai perkataan yang penghabisan.


Bagaimana di dalam bahasa Ibrani?

Deu 31:30 BHS
 וַיְדַבֵּ֣ר מֹשֶׁ֗ה בְּאָזְנֵי֙ כָּל־קְהַ֣ל יִשְׂרָאֵ֔ל אֶת־דִּבְרֵ֥י הַשִּׁירָ֖ה הַזֹּ֑את עַ֖ד תֻּמָּֽם

va.ye.da.ber mo.she be.az.nei kol-QA.HAL yis.ra.el et-div.rei ha.shi.ra ha.zot ad tu.mam:

Deu 31:30 KJV
And Moses spake in the ears of all the CONGREGATION [כָּל־קְהַ֣ל - kol-QA.HAL] of Israel the words of this song, until they were ended.

NOTE :
Ternyata, kata "GEREJA" yaitu "[εκκλησιασ - EKKLESIA]", sudah ada sejak di zaman Musa, yaitu "[כָּל־קְהַ֣ל - kol-QA.HAL]", yaitu JEMAAT ISRAEL.

Jadi ketika Yeshua mengatakan Mat 16:18...

Mat 16:18 TB-LAI
Dan Akupun berkata kepadamu: Engkau adalah Petrus dan di atas batu karang ini Aku akan mendirikan JEMAAT [εκκλησια - EKKLESIA]-Ku dan alam maut tidak akan menguasainya.

...sebenarnya adalah sama dengan...

Mat 16:18 TB-LAI
Dan Akupun berkata kepadamu: Engkau adalah Petrus dan di atas batu karang ini Aku akan mendirikan JEMAAT [כָּל־קְהַ֣ל - kol-QA.HAL]-Ku dan alam maut tidak akan menguasainya.

...yaitu...

[εκκλησια ισραηλ - EKKLESIA ISRAEL] = [כָּל־קְהַ֣ל יִשְׂרָאֵ֔ל - kol-QA.HAL IS.RA.EL] = JEMAAT ISRAEL.

Inilah JEMAAT POHON ZAITUN yang penuh getahnya, yang digambarkan oleh Rabbi Sha'ul (Paulus) dalam Roma 11:17-18.

Roma 11:17   
Karena itu apabila beberapa cabang telah dipatahkan dan kamu sebagai tunas liar telah dicangkokkan di antaranya dan turut mendapat bagian dalam akar pohon zaitun yang penuh getah,

Roma 11:18   
janganlah kamu bermegah terhadap cabang-cabang itu! Jikalau kamu bermegah, ingatlah, bahwa bukan kamu yang menopang akar itu, melainkan akar itu yang menopang kamu.

Jadi...SIAPAKAH SEBENARNYA "GEREJA" itu?

Friday, June 29, 2012

ISRAEL DAN GEREJA

ISRAEL DAN GEREJA
------------------------------






 















Memahami beberapa TEOLOGI
------------------------------------------

Ketika mempelajari agama Yahudi (akar dari ke-Kristen-an), seringkali muncul pertanyaan-pertanyaan tertentu mengenai asalnya "ISRAEL", asalnya "GEREJA", dan bagaimana hubungan antara mereka.

Apakah orang Kristen menjadi "Yahudi" karena hubungan mereka dengan Yesus? Apakah "GEREJA" menggantikan orang-orang Yahudi dalam rencana Elohim sebagai "ISRAEL YANG BARU"?

Sebenarnya bagaimana kita seharusnya memahami hubungan antara ISRAEL dan GEREJA?

Secara umum, sebenarnya ada 3 sistem TEOLOGI di dalam ke-Kristen-an yang menjelaskan hubungan antara "ISRAEL" dengan "GEREJA", yaitu :

1.
REPLACEMENT THEOLOGY (TEOLOGI PENGGANTIAN).
GEREJA menggantikan ISRAEL sebagai umat pilihan Elohim.
  
2.
SEPARATION THEOLOGY (TEOLOGI PEMISAHAN).
GEREJA dan ISRAEL adalah kelompok yang berbeda. Dan Elohim mempunyai rencana terhadap keduanya yang berbeda dan terpisah.

3.
REMNANT THEOLOGY (TEOLOGI YANG TERSISA).
GEREJA dicangkokkan kepada ISRAEL yang tersisa saat ini dan menjadi satu dengan ISRAEL bersama-sama menyembah Elohim di dalam Mesias ISRAEL.   

Manakah TEOLOGI yang benar dan sesuai dengan rencana Elohim?

Sebagaimana yang akan kita lihat, masing-masing sistem ini mengarah kepada kesimpulan yang berbeda secara radikal, tetapi sebelum kita menjelajah lebih detail, kita perlu mendefinisikan dulu apakah definisi "ISRAEL" dan apakah definisi "GEREJA".

DEFINISI ISRAEL
------------------------

Di dalam kitab Taurat (kelima kitab Musa pada Alkitab), ISRAEL merujuk pada suatu nama baru yang diberikan ADONAI kepada Yakub, yang mana Yakub adalah anak Ishak, cucu Abraham, dan bapak dari ke-12 suku ISRAEL (Kejadian 32:28). ISRAEL mengacu pada keturunan Yakub yang masuk ke Mesir (akibat dari Yusuf yang dibuang oleh saudaranya) (Kejadian 37:12 - 36 & Kejadian 41:37 - 57 & Kejadian 46), dan di bawah naungan Yusuf kemudian berkembang menjadi bangsa yang besar pada masa Firaun (Keluaran 1:7).

Selama zaman Musa orang-orang yang berasal dari keturunan Yakub ini secara kolektif disebut "Anak-Cucu Yakub" atau "keturunan ISRAEL". Kelompok orang-orang inilah yang dipimpin Musa keluar dari Mesir pada saat יציאת מצרים atau Yetziat Mitzraim / Keluar dari Mesir (Keluaran 3:6 - 10) serta menjadikan mereka bangsa pilihan ADONAI / umat ADONAI (Keluaran 6:5 - 7) melalui ketetapan di Sinai dan persyaratannya (Keluaran 19:3 - 6).

Kemudian kelompok orang-orang yang sama inilah berhasil merebut tanah yang sudah dijanjikan kepada Abraham oleh Elohim, yaitu Tanah Perjanjian (Kejadian 15:18 - 21 & Kejadian 17:2 - 8) di bawah kepemimpinan Yosua (Yosua 1). Yosua memimpin kepada kemenangan untuk bangsa ISRAEL di tanah Kanaan (Yosua 23:1 - 6).

Bangsa yang baru ini memiliki tanah air dan menerapkan sistem pemerintahan teokrasi dengan המשכן atau HaMishkan (Kemah Suci / Tabernakel) sebagai pusat ibadah (Keluaran 25 & Keluaran 26). Setelah Yosua mati bangsa Israel murtad (Hakim-Hakim 2:6 - 23), berbagai שופטים atau Shofetim (Hakim) muncul, pertempuran melawan orang Filistin dan Kanaan terjadi.

Kemudian orang Israel menghendaki seorang raja (1 Samuel 8) dan Samuel mengurapi Saul sebagai raja pertama Israel (1 Samuel 9). Kemudian Daud menggantikan Saul sebagai raja (1 Samuel 16 & 2 Samuel 5). Daud-lah yang bercita-cita membangun בית המקדש atau Beit HaMikdash (Bait Suci) untuk menghormati ADONAI, Elohim Israel, ADONAI membuat perjanjian dengan Daud bahwa salah seorang keturunannya akan memerintah atas ISRAEL untuk selama-lamanya (2 Samuel 7). Daud meninggal, namun, tanpa membangun Bait Elohim, sehingga anaknya Salomo naik takhta dan menyelesaikan proyek pembangunan Bait Suci (1 Raja-Raja 5).

Salomo, raja ISRAEL jatuh ke dalam dosa penyembahan berhala. Setelah Salomo mati kerajaan ISRAEL terpecah menjadi 2 kerajaan (1 Raja-Raja 12).

Kerajaan Selatan disebut Kerajaan YEHUDA (termasuk kota Yerusalem dan Bait Elohim), terdiri dari 2 suku. Kerajaan Utara disebut Kerajaan ISRAEL, terdiri dari 10 suku. Dua kerajaan ini sering bertengkar satu sama lain sampai Kerajaan Asyur / Assyria menaklukkan Kerajaan Utara / Kerajaan ISRAEL (2 Raja-Raja 17) pada tahun 722 SM.

10 dari 12 suku Israel dipaksa keluar dari Kanaan oleh Kerajaan Asyur / Assyria (Diaspora Pertama terjadi) selain itu raja Asyur juga membawa orang asing (orang-orang Samaria) untuk menduduki dan mendiami tanah Kanaan menggantikan orang ISRAEL (2 Raja-Raja 17:24 - 41). Setelah Kerajaan Utara runtuh, kini hanya tinggal Kerajaan YEHUDA / Kerajaan Selatan.

Kerajaan Asyur hancur dikalahkan oleh Kerajaan Babel, kemudian Kerajaan Babel di bawah pemerintahan raja Nebukadnezar menyerang Kerajaan Selatan / Kerajaan YEHUDA, Babel membakar Bait Suci, rumah raja, dan semua rumah di Yerusalem serta mengangkut Yehuda ke pembuangan di Babel (2 Raja-Raja 25:8 - 12) pada tahun 586 SM (Diaspora Kedua terjadi).

Setelah kematian raja Nebukadnezar, Kerajaan Babel ditaklukkan oleh  raja Koresy dari Kerajaan Media - Persia. ADONAI menggerakkan hati Koresy untuk mengizinkan orang-orang Yahudi pulang / ALIYAH ke Yerusalem yang terletak di Yehuda (Ezra 1). Hanya mereka yang berasal dari Kerajaan Selatan / Kerajaan YEHUDA yang ber-ALIYAH. Sedangkan yang berasal dari Kerajaan Utara / Kerajaan ISRAEL, tidak pernah ber-ALIYAH, melainkan mereka berbaur dengan bangsa-bangsa.

Kemudian orang-orang Yahudi yang pulang / ber-ALIYAH mulai membangun dan mentahbiskan kembali Bait Elohim yang telah dihancurkan oleh Babel (Ezra 6:13 - 22).

Catatan :

Bait Elohim dihancurkan oleh Babel sekitar tahun 586 SM (2 Raja-Raja 25).
   
Bait Elohim dibangun kembali sekitar tahun 536 SM pada zaman raja Persia Koresy (Ezra 1 - Ezra 3).

Pembangunan sempat terhambat namun Bait Elohim dapat selesai pada zaman raja Persia Darius I sekitar 516 SM (Ezra 4 - Ezra 6)
   
Tahun 586 SM - 516 SM = 70 tahun (genap sudah janji ADONAI seperti yang diucapkan oleh nabi Yeremia di Yeremia 29 : 10 bandingkan dengan Ezra 1 : 1
   
Setelah Kerajaan Media - Persia hancur, kemudian Kerajaan Yunani mulai melebarkan sayap kekuasaannya. Di bawah pimpinan "Alexander the Great" pasukan Yunani mengalahkan pasukan Persia yang dipimpin oleh raja Darius III di Macedonia (333 SM) dan akhirnya menaklukkan tanah Kanaan, selanjutnya seorang penguasa Yunani bernama Antiochus Epiphanes memerintah Syria / Suriah (dari sekitar 175 SM hingga sekitar 164 SM). Antiochus juga memerintah atas tanah Kanaan dan mencoba untuk menghancurkan agama Yahudi dengan cara mencemarkan Bait Elohim dan membakar salinan Taurat. Hal ini menyebabkan pemberontakan Makabe yang membuka jalan bagi kemerdekaan Yahudi di Yerusalem dan daerah sekitarnya. Kemenangan ini diperingati sebagai חנוכה atau Chanukah.

Ketika Kerajaan Yunani mulai melemah, Kerajaan Romawi menyerang Syria (di bawah kepemimpinan Pompey) dan Yerusalem jatuh di bawah kekuasaan Kerajaan Romawi. Kemudian Yesus dilahirkan dan melakukan pelayanan-Nya di ISRAEL. Beberapa tahun setelah Yesus disalibkan, tentara Romawi (di bawah pimpinan Jendral Titus) menghancurkan Yerusalem dan Bait Suci pada tahun 70 M, sehingga genap sudah seperti yang dinubuatkan Yesus (Matius 24:1 - 2).

Kemudian pada tahun 135 M, Kerajaan Romawi di bawah pimpinan kaisar Hadrianus menekan pemberontakkan Bar Kokhba, menghancurkan seluruh Yerusalem, dan mengirim semua orang Yahudi ke pengasingan (Diaspora ke tiga terjadi). Dalam upaya untuk mengakhiri semua harapan orang Yahudi untuk sebuah negara merdeka, Hadrianus mengganti nama tanah Kanaan menjadi JUDEA.

JUDEA biasa disebut dalam bahasa Ibrani : יהודה / YEHUDAH ; dalam bahasa Yunani : Ιουδαία / IOUDAIA; dalam bahasa Latin : JUDAEA, pada zaman kaisar Hadrianus dari Kerajaan Romawi, nama JUDEA diganti nama menjadi PALESTINE atau dalam bahasa Indonesia PALESTINA.

Nama PALESTINA diambil dari musuh bersejarah ISRAEL yaitu FILISTIN. Ini adalah awal גלות atau Galut (Diaspora Yahudi besar-besaran).

Pada akhir 1800-an gerakan Zionis dimulai di Eropa. Theodor Herzl, seorang wartawan dari Austria menulis buku yang berjudul der Judenstaat (Negara Yahudi) yang menyerukan pembentukan sebuah negara Yahudi sebagai solusi untuk Diaspora. Herzl juga menyelenggarakan Kongres Zionis Dunia pertama, menyatukan beragam kelompok Zionis menjadi gerakan di seluruh dunia.

Selama Perang Dunia I, pasukan Inggris mengalahkan Turki (Dinasti Turki Usmani) dan berkuasa atas daerah yang disebut "PALESTINA". Berdasarkan Deklarasi Balfour, orang-orang Yahudi diizinkan untuk kembali menempati tanah leluhur mereka. Kemudian, Hitler menjadi teror di Jerman dalam peristiwa Holocaust - pembunuhan secara sistematis yang dilakukan oleh Nazi terhadap 6 juta orang Yahudi - menyebabkan dukungan seluruh dunia kepada orang-orang Yahudi untuk membangun kembali negara ISRAEL sebagai tanah air permanen. Setelah imigrasi lebih lanjut ke Palestina, pada 14 Mei 1948, orang-orang Yahudi menyatakan kemerdekaan bagi negara demokratis ISRAEL (Medinat Yisrael), sungguh sebuah keajaiban modern yang mengungkapkan penjagaan Elohim bagi orang-orang Yahudi selama ribuan tahun. Kelahiran kembali bangsa ISRAEL berarti bahwa setelah hampir 2.900 tahun (sejak zaman Raja Salomo) negara Israel telah kembali merdeka dan bersatu (Ulangan 30:2 - 5 & Mazmur 147:2 & Yehezkiel 11:17 & Yehezkiel 28:25 & Yehezkiel 34:13 & Yehezkiel 37:21). Namun beberapa jam setelah ISRAEL mendeklarasikan kemerdekaannya, negara-negara Arab seperti Mesir, Jordan, Arab Saudi, Irak, Yaman, Suriah dan Libanon sekitarnya melancarkan invasi ke ISRAEL. ISRAEL-pun berperang dan menang. ISRAEL berhasil mempertahankan tanah air mereka dan mencaplok beberapa tanah Arab disekitarnya.

Tahun 1956 terjadi perang yang dikenal sebagai Krisis Suez  terjadi antara ISRAEL dengan Mesir. Kembali ISRAEL menang.

Tahun 1967 terjadi perang yang dikenal sebagai Perang 6 Hari antara Israel dan negara-negara Arab seperti Mesir, Suriah, Jordan, Irak, Arab Saudi dan kembali ISRAEL menang. ISRAEL berhasil merebut kendali atas Yerusalem, Jalur Gaza, Semenanjung Sinai, Tepi Barat, dan Dataran Tinggi Golan secara keseluruhan, wilayah ISRAEL bertambah tiga kali lipat, termasuk sekitar satu juta orang Arab yang masuk ke dalam kontrol Israel di wilayah yang baru didapat (banyak dari penduduk wilayah-wilayah tersebut mengungsi ke luar ISRAEL). Batas ISRAEL bertambah paling sedikit 300 km ke selatan, 60 km ke timur, dan 20 km ke utara (Mikha 7 : 11). Selama beberapa tahun terakhir, Intifadah dan kebangkitan Islam serta beberapa organisasi teroris bermotif religius yang ingin menyingkirkan ISRAEL dari muka bumi seperti Hamas & Hizbullah dengan cara melakukkan aksi-aksi bom bunuh diri & menembakkan roket-roket ke wilayah ISRAEL kembali mengancam bangsa ISRAEL, meskipun dikeroyok dan dimusuhi oleh banyak negara-negara Arab, ISRAEL sendiri mengaku tidak pernah takut kepada mereka sebab ADONAI-lah yang selama ini telah menjaga ISRAEL agar tetap eksis dan tidak punah (Mazmur 121 & Maleakhi 3:6).

DEFINISI GEREJA
-------------------------

Kata "GEREJA" tidak pernah muncul dalam Alkitab terjemahan bahasa Indonesia (baik Perjanjian Lama maupun Perjanjian Baru). Kata "GEREJA" hanya muncul dalam Alkitab terjemahan bahasa Inggris dengan kata "CHURCH".

Dalam terjemahan bahasa Yunani Perjanjian Lama (sering disebut juga SEPTUAGINTA atau LXX) menggunakan kata ἐκκλησία / EKKLESIA yang terdiri dari kata EK dan KALEO (EK = KELUAR; KALEO = PANGGIL). Sehingga EKKLESIA = DIPANGGIL KELUAR.

Dalam bahasa Ibrani menggunakan kata קהל / QAHAL dan kata עדה / EDAH (keduanya memiliki arti JEMAAH / JEMAAT).

SEPTUAGINTA atau LXX menggunakan kata συναγωγή / SUNAGOGE, yang artinya JEMAAH / JEMAAT. Dan untuk kata Ibrani עדה / EDAH selalu diterjemahkan sebagai PERTEMUAN.

Ibrani / Tanakh        Yunani / LXX                        Indonesia
קהל / QAHAL           έκκλησία / EKKLESIA          GEREJA
עדה / EDAH             συναγωγή / SUNAGOGE    JEMAAH / PERTEMUAN

Dalam pengertian Perjanjian Baru kata EKKLESIA selalu mengacu pada kelompok orang-orang "YANG DIPANGGIL KELUAR" untuk percaya kepada Yeshua Mesias / Yesus Kristus sebagai Juruselamat.

Secara khusus, EKKLESIA ini hanya terdiri dari orang-orang yang mengakui iman mereka bahwa Yeshua / Yesus tidak lain adalah Mesias, yang mati sebagai korban untuk menebus berdosa dosa-dosa mereka, dikuburkan, dibangkitkan oleh Elohim dari kematian dan naik ke sorga.

Kalau dipahami secara historis, EKKLESIA yang disebutkan dalam Perjanjian Baru ini ternyata didirikan oleh seorang Yahudi yang taat Taurat yaitu Yeshua / Yesus (Galatia 4:4 - 5 & Roma 15:8).

Pengikut pertama Yeshua / Yesus pada dasarnya banyak yang berasal dari orang Yahudi, baik rasul maupun penulis Perjanjian Baru. Maka dari itu GEREJA yang lahir di Yerusalem berasal dari kalangan orang Yahudi.

Khotbah Petrus pada hari שבועות (yakni SHAVU'OT atau PENTAKOSTA atau HARI RAYA 7 MINGGU) banyak sekali mengutip dari Kitab Para Nabi dan Daud. Bahwa 3.000 orang yang diselamatkan pada hari itu adalah orang Yahudi (Kisah Para Rasul 2:14 - 47).

Cara hidup jemaat yang pertama ini sering berkumpul secara teratur di dalam בית המקדש atau Bait Elohim (Kisah Para Rasul 2:46). Perhatikan pula bahwa rasul Petrus dan Yohanes tercatat pergi ke Bait Elohim untuk sembahyang pada siang hari (yakni מנחה / Mincha) (Kisah Para Rasul 3:1).

Pelayanan para Rasul masih berlanjut secara eksklusif di antara orang-orang Yahudi, di antaranya "ribuan orang yang PERCAYA kepada Yeshua sebagai Mesias dan RAJIN MEMELIHARA Taurat" (Kisah Para Rasul 21:20).

Bahkan setelah mereka dipenjarakan, tetapi secara ajaib lolos, seorang malaikat mengatakan kepada mereka untuk "Pergilah, berdirilah di Bait Elohim dan beritakanlah seluruh firman hidup itu kepada orang banyak." (Kisah Para Rasul 5:17 - 21). Ketika Stefanus dipanggil oleh Imam Besar dan dewan, dia memberi pembelaan yang benar-benar Yahudi, yang meliputi seluruh sejarah Israel sebelum ia mati syahid (Kisah Para Rasul 7).

Catatan :

Orang Yahudi berdoa 3 kali dalam sehari secara rutin (Daniel 6 : 11)
  
שחרית atau Shacharit (Morning Prayers)
מנחה atau Mincha (Afternoon Prayers)
מעריב atau Ma'Ariv (Evening Prayers)
   
Mazmur Daud berkata : Mazmur 55 : 17 - 18.

Bahkan ketika Petrus berkunjung ke rumah Kornelius, seorang perwira pasukan Italia yang takut akan ADONAI (Kisah Para Rasul 10), Petrus sempat mengalami krisis hati nurani, dalam visinya ia mengatakan bahwa ia tidak akan makan dari binatang yang diperlihatkan kepadanya (makanan non-kosher), dan kedua, ia ragu untuk memasuki rumah seorang non-Yahudi (Kisah Para Rasul 10:28). Ini menunjukkan, bahwa Petrus adalah orang Yahudi yang taat kepada Taurat.

Demikian juga Rasul Paulus adalah seorang Yahudi yang taat kepada Taurat. Ia dilahirkan di Tarsus, namun dibesarkan di Yerusalem dan belajar di bawah Rabi yang terkenal Gamaliel (Kisah Para Rasul 22:3). Apakah Paulus yang Yahudi ini menolak gaya hidup Yahudi yang taat kepada Taurat setelah pertobatannya di perjalanannya ke Damsyik (Kisah Para Rasul 9) ?

Kita lihat beberapa bukti yang dapat menunjukkan orang seperti apa Paulus selama pelayanan-nya :

1.
Paulus mengidentifikasi dirinya sebagai seorang Yahudi tulen, dari suku Benyamin, seorang Farisi. Dalam Kisah Para Rasul 23:6 ia mengaku, "Aku adalah seorang Farisi." Dia bahkan menyatakan bahwa mengenai pelaksanaan hukum Taurat dia "tidak bersalah", dan menunjukkan bahwa dia mentaati gaya hidup orang Yahudi (Filipi 3:5 - 6). Paulus bersaksi bahwa ia memelihara hukum Taurat sepanjang hidupnya (Kisah Para Rasul 25:7 - 8, lihat juga Kisah Para Rasul 28 : 17).
   
2.
Paulus adalah orang yang menyuruh Timotius untuk sunat, Timotius adalah seorang Yunani blasteran Yahudi. Timotius disunat sebelum dibawa oleh Paulus pada sebuah perjalanan untuk membantu pelayanan di antara orang Yahudi (Kisah Para Rasul 16:1 - 3).
   
3.
Paulus sering menghadiri ibadah di rumah ibadat orang Yahudi. "Dia datang ke Tesalonika, di mana ada sebuah rumah ibadat orang Yahudi. Seperti biasa Paulus masuk ke rumah ibadat itu. Tiga hari Sabat berturut-turut ia membicarakan dengan mereka bagian-bagian dari Kitab Suci." (Kisah Para Rasul 17:1 - 3).
   
4.
Paulus mengambil NAZAR (Kisah Para Rasul 18:18; Bilangan 6:2 - 6, 13 - 18).
   
5.
Setelah meninggalkan Filipi (Kisah Para Rasul 20:6) ia berlayar di sepanjang pantai Asia Kecil, berhenti di beberapa tempat di sepanjang jalan, tapi melewatkan Efesus karena ia ingin berada di Yerusalem untuk Perayaan SHAVU'OT atau PENTAKOSTA (Kisah Para Rasul 20:16).
   
6.
Paulus tidak setuju dengan gaya hidup / kelakuan Petrus (Galatia 2:11 - 14) tentang persyaratan orang kafir / tidak bersunat untuk masuk agama Yahudi.

Jadi, pada saat itu agama Kristen masih merupakan sebuah sekte kecil dari Yudaisme. Dan ke-Kristen-an dikenal sebagai MESIANIK YUDAISME.

Keretakan antara para pengikut MESIANIK YUDAISME dan YUDAISME RABINIK mulai terlihat pada perang Yahudi-Romawi, yakni Pemberontakan Bar Kokhba (132-135 M). Rabi Yahudi yang bernama Akiva meyakinkan pihak Sanhedrin untuk mendukung pemberontakan dan benar-benar menganggap pemimpin pemberontakan (Simon Bar Kokhba) sebagai Mesias Yahudi.

Sedangkan Yahudi pengikut Yesus atau MESIANIK YUDAISME tidak setuju karena mereka meyakini bahwa Yesus-lah Mesias sejati. Disinilah pemisahan antara YUDAISME RABINIK dan MESIANIK YUDAISME mulai terjadi.

Bersamaan dengan penolakan terhadap EKKLESIA Yeshua oleh para pemimpin etnis ISRAEL, justru malah semakin banyak bangsa-bangsa lain menjadi beriman dan datang kepada Yeshua, dan akar ke-Yahudi-an Yeshua mulai dilupakan.

"Kelupaan" ini malah diperparah oleh berbagai macam orang-orang Kristen dari bangsa-bangsa lain yang bukan berasal dari בן יעקב bani Yakub (ISRAEL) yang dipengaruhi oleh filsafat Yunani diawal-awal abad dan menganjurkan untuk memutuskan EKKLESIA dari akar sejarah Yahudi. Kemudian EKKLESIA non Yahudi ini berupaya untuk menonjol sebagai identitas yang berbeda dari ISRAEL, dengan misi dan tujuan sendiri.

Itulah mengapa sekarang ini GEREJA begitu sangat berbeda dan menjadi anti-Yahudi.

Meskipun demikian EKKLESIA / GEREJA non-Yahudi ini masih mempunyai hutang mengenai asal-usul GEREJA kepada EKKLESIA Yahudi pengikut Yeshua yakni MESIANIK YUDAISME.

REPLACEMENT THEOLOGY (TEOLOGI PENGGANTIAN)
------------------------------------------------------------------------------

Photobucket

Teologi ini mengajarkan bahwa GEREJA dan ISRAEL sebenarnya merujuk pada kelompok orang yang sama. Karena ISRAEL menolak Yesus sebagai Mesias, maka GEREJA sekarang menerima semua perjanjian berkat dan janji-janji Elohim. Ini adalah "mindset" kebanyakan teolog Kristen pada hari ini.

Replacement Theology mengklaim bahwa GEREJA adalah "baru dan lebih daripada" ISRAEL, lebih baik daripada yang lebih tua yang dinyatakan di dalam Perjanjian Lama. Pada zaman dahulu GEREJA / EKKLESIA memang ditujukan kepada bangsa ISRAEL, tetapi setelah kasih Yesus itu ditolak oleh orang Yahudi, maka Elohim memindahkan seluruh perjanjian-perjanjian dan janji-janji-Nya dari ISRAEL untuk GEREJA. Bahwa "Perjanjian Baru" yang diberikan kepada ISRAEL (Yeremia 31:31 - 37) telah digenapi melalui GEREJA Kristen. Pandangan ini disebut "Replacement Theology" karena GEREJA Kristen sekarang telah menggantikan bangsa ISRAEL sebagai EKKLESIA sejati Elohim.

"Sebab tidak semua orang yang berasal dari ISRAEL adalah orang ISRAEL" (Roma 9:6). Karena ketidaktaatan ISRAEL (yaitu, penolakan terhadap "Perjanjian Baru" dan Yesus), ISRAEL tidak lagi menjadi "bangsa terpilih" dengan status khusus atau masa depan.

Seperti Martin Luther mengatakan, karena orang-orang Yahudi menolak Kristus, satu-satunya yang tersisa untuk mereka adalah kutukan yang ditemukan dalam Alkitab, tapi tidak ada berkat. Oleh karena itu semua janji tentang ISRAEL yang dikumpulkan lagi (Yehezkiel 28:25), dipulihkan, dan dibebaskan dari musuh-musuhnya di Kerajaan yang mendatang akan dipindahkan ke GEREJA. Dan karena Yesus sekarang memerintah dari tahta Daud, misi GEREJA adalah untuk mengantarkan Kerajaan Elohim di bumi dengan cara penyebaran Injil di seluruh dunia. Pada akhir zaman, Yesus akan kembali untuk memisahkan "domba dari kambing" (Matius 25:32 - 33) dan Kerajaan kekal Elohim akan bertahan selamanya.

Harap dicatat bahwa salah satu konsekuensi dari pandangan ini adalah bahwa GEREJA pada dasarnya bukan baru, karena sudah ada sebelum zaman Yesus sebagai kumpulan dari orang-orang kudus yang percaya kepada Elohim ISRAEL untuk keselamatan mereka (yaitu, sisa yang setia). Sejak itulah GEREJA sebenarnya adalah semacam "reformasi" atau "pembaruan" dari ISRAEL, atau mungkin akan lebih cocok untuk menganggap pandangan ini sebagai "PEMBAHARUAN TEOLOGI" karena mengacu bahwa GEREJA adalah bentuk pembaruan dari ISRAEL yang setia. Intinya adalah membawa kita pada kesimpulan bahwa ISRAEL harus "kembali dicangkokkan" ke dalam pohon zaitun dari GEREJA, bukan pemahaman yang sebaliknya bahwa GEREJA non-Yahudi yang terdiri dari "tunas zaitun liar" dicangkokkan ke perjanjian yang diberikan kepada ISRAEL (Roma 11:17 - 23; Efesus 2:12).

KESALAHAN PADA REPLACEMENT THEOLOGY
-------------------------------------------------------------------

Dalam Replacement Theology "ISRAEL" mengacu kepada semua orang yang mentaati Perjanjian Baru dari Yesus, yang dengan demikian disebut "anak-anak Abraham yang sejati" dan ahli waris menurut janji (Galatia 3:29) . Dalam istilah rohani, GEREJA sekarang adalah "ISRAEL milik Elohim" (Galatia 6:16) yang terdiri dari orang-orang Yahudi dan bangsa-bangsa lain dengan cara dilahirkan kembali oleh iman mereka kepada Yesus (Matius 3:9, Lukas 3:8, Galatia 3:6, 9). Bangsa ISRAEL sebenarnya hanyalah "benih" dari GEREJA masa depan, yang pada akhirnya akan mengembalikan seluruh bumi di bawah Kerajaan Elohim yang akan datang (Maleakhi 1:11, Roma 4:13). GEREJA sekarang adalah wakil Elohim di bumi (Galatia 3:29). Yesus sendiri mengajarkan bahwa orang-orang Yahudi akan kehilangan hak istimewa rohani mereka dan digantikan oleh "orang lain" (Matius 21:43). Kehadiran GEREJA pada hari SHAVU'OT / PENTAKOSTA, menandakan bahwa urusan Elohim dengan bangsa ISRAEL "selesai", dan hari ini, seorang "Yahudi sejati" adalah seseorang yang dilahirkan dari Roh, apakah dia secara fisik lahir dari bangsa Yahudi atau tidak (Roma 2:28 - 29). Semua janji yang dibuat kepada ISRAEL dalam Perjanjian Lama sekarang telah menjadi milik GEREJA Yesus, yang sekarang (secara simbolis) memerintah di atas tahta Daud (2 Korintus 1:20).

Atau dalam bentuk yang lebih terus terang, Replacement Theology bersifat agresif dan bahkan dominion dalam pandangan, karena menganggap bahwa GEREJA telah menggantikan ISRAEL dalam arti rohani.

Replacement Theology mengajarkan : orang-orang Yahudi bukan lagi umat pilihan Elohim dan Elohim tidak memiliki rencana masa depan yang unik bagi bangsa ISRAEL.

GEREJA sekarang adalah ISRAEL ROHANI. GEREJA sekarang menjadi "biji mata Elohim" (Ulangan 32:10; Zakharia 2:8). Dengan kata lain, istilah "ISRAEL" menunjukkan hanya mereka yang Kristen, dan sebaliknya hanya orang Kristen adalah pewaris perjanjian-perjanjian dan berkat-berkat yang diberikan kepada Abraham dan keturunannya.

Singkatnya, GEREJA adalah ISRAEL ROHANI dan ISRAEL harus dipahami sebagai GEREJA. Jika ISRAEL tergantikan tentu saja Islam juga mengklaim bahwa mereka telah "menggantikan" ISRAEL sebagai umat pilihan di bumi.

Mungkin perlu dicatat di sini bahwa beberapa teologi Yahudi juga membalas "Replacement Theology" Kristen dengan mempertahankan bahwa suatu hari ISRAEL akan menang atas GEREJA (dipahami secara kolektif sebagai "bangsa-bangsa lain," "Kristen,"). Menurut eskatologi Yahudi tersebut, dalam hari-hari Mashiach TUHAN akan menetapkan Yerusalem sebagai titik sentral di dunia, dan semua orang-orang Yahudi yang tersebar secara permanen akan dikembalikan ke Tanah leluhur mereka sesuai dengan yang Tuhan janjikan. Semua literal tentang janji-janji yang diberikan kepada Abraham, Ishak, Yakub, dan dikonfirmasi oleh nabi Yahudi akan benar-benar terpenuhi. Semua musuh kuno orang Yahudi akan dikalahkan, dan ISRAEL akan memasuki Zaman Ke-emas-an damai di atas bumi (ini sering dirangkum oleh kelompok-kelompok ortodoks tertentu seperti Chabad dengan sebutan, "Moshiach !"). Selain itu "Replacement Theology" juga rawan menimbulkan sikap antisemitisme.

SEPARATION THEOLOGY (TEOLOGI PEMISAHAN)
-----------------------------------------------------------------------

Photobucket

Pilihan teologis ini mengajarkan bahwa GEREJA dan ISRAEL merujuk kepada kelompok orang yang berbeda.

GEREJA dipahami sebagai suatu ciptaan baru yang dimulai dengan munculnya רוח הקודש atau Ruach HaKodesh (Roh Kudus) selama Shavu'ot (Pentakosta), dan akan terus "berlanjut" sampai ke Sorga pada saat Pengangkatan. GEREJA tidak berada di bawah kewajiban perjanjian yang diberikan kepada bangsa ISRAEL di Sinai (yaitu, perjanjian Musa), yang mana perjanjian ini hanya diberikan kepada bangsa ISRAEL. Janji-janji yang dibuat untuk bangsa ISRAEL merupakan kewajiban ISRAEL, bukan kepada GEREJA. Kata "ISRAEL" selalu berarti ISRAEL dalam Kitab Suci, sedangkan kata "GEREJA" selalu mengacu kepada GEREJA.

Kritik terhadap SEPARATION THEOLOGY adalah bahwa perbedaan tajam antara bangsa ISRAEL dan GEREJA mengimplikasikan bahwa ada tiga kelompok abadi orang yang berbeda di bumi yaitu: orang-orang Yahudi, orang-orang kafir, dan GEREJA (yang terdiri dari orang Yahudi dan bangsa-bangsa lain dan dibentuk menjadi "satu manusia baru"). Oleh karena itu, Yahudi hanya dianggap sebagai properti / status yang diawetkan selamanya.

Kritik lainnya adalah bahwa karena mengabaikan konsep sisa ISRAEL yang setia, ia cenderung mendorong GEREJA untuk mengabaikan akar Yahudi-nya. Perjanjian dan berkat yang dibuat kepada bangsa ISRAEL tidak dapat diterapkan secara langsung kepada GEREJA.

Dalam prakteknya, hal ini memiliki efek tanpa disadari meminimalkan relevansi Perjanjian Lama Kitab Suci. Selain itu Separation Theology juga berargumen bahwa umat Tuhan baik GEREJA maupun ISRAEL memiliki program keselamatan yang terpisah atau argumen ini kadang diilustrasikan oleh karikatur bahwa Gereja suatu hari akan mewarisi rumah-rumah di surga, sementara Israel akan mewarisi bumi.

Ini tidak adil untuk beberapa alasan, tapi teologi ini masih percaya bahwa bangsa ISRAEL akan suatu hari datang kepada iman yang menyelamatkan di dalam Mesias ketika ia berseru "Diberkatilah Dia yang datang dalam nama Tuhan!" (Matius 23:37 - 39, Lukas 13:35). Lalu nubuat dari Perjanjian Baru bangsa ISRAEL akan digenapi (Yeremia 31:31 - 37) dan "Seluruh Israel akan diselamatkan" (Roma 11:25 - 26).

REMNANT THEOLOGY (TEOLOGI YANG TERSISA)
-----------------------------------------------------------------------

Photobucket

Pilihan teologis ini mengajarkan bahwa GEREJA dan ISRAEL bersatu menjadi kesatuan "ONE NEW MAN IN MESSIAH".

Jika dalam REPLACEMENT THEOLOGY, GEREJA dikatakan menggantikan ISRAEL dan ISRAEL ditinggalkan tanpa penebusan tanpa masa depan.

Dalam SEPARATION THEOLOGY, ada perbedaan antara ISRAEL dan GEREJA, sehingga ada beberapa pertanyaan tentang bagaimana dua kelompok ini akan berinteraksi.

Dalam REMNANT THEOLOGY, GEREJA untuk menjadi bagian dari bangsa ISRAEL yang setia dan menerima Yesus Kristus sebagai Mesias yang dijanjikan. Iman dari bangsa Israel yang masih setia ini disebut Remnant (Sisa) atau "ISRAEL milik Elohim" (Galatia 6:16)

שארית ישרא (She'arit Yisra'el - Sisa dari ISRAEL)

----------------------------------------------------------------

Alkitab membuat perbedaan antara etnis Yahudi (yaitu, seorang yang lahir Yahudi) dan yang satu dianggap sebagai anggota She'arit Yisrael (Sisa ISRAEL) yang setia. Hal ini dapat dilihat sebagai berikut :

Photobucket

Seperti dapat dilihat dari diagram ini, seseorang dapat menjadi :
1. di luar hubungan dengan ISRAEL (yaitu, seorang kafir)

2. dalam etnis Israel berdasarkan kelahiran (keturunan Yahudi asli) atau

3. dalam kedua etnis ISRAEL (yaitu, keturunan Yahudi asli) dan bagian dari sisa yang setia (sebagai seorang Yahudi yang percaya kepada Elohim ISRAEL).

(Logikanya, akan ada pilihan keempat di sini yang akan dibahas di bawah). Perbedaan ini penting karena ada banyak orang yang terlalu menyederhanakan masalah ini dan membingungkan etnis ISRAEL dengan "sisa ISRAEL yang dipilih oleh kasih karunia Elohim" (Roma 11:5).

"Sisa ISRAEL" adalah seorang yang dipilih dari etnis ISRAEL yang telah setia dan dipelihara oleh TUHAN selama berabad-abad. Keberadaannya dibuktikan dalam Kitab Suci Perjanjian Lama seperti yang terlihat dalam kasus-kasus berikut :

* Ishak dipilih atas Ismail (Kejadian 17:19)

* Yakub dipilih atas Esau (Kejadian 28:13 - 15)

* Yusuf dipilih atas saudara-saudaranya yang lain (Kejadian 45:7)

* ISRAEL dipilih sebagai bangsa pilihan di Sinai dan "Sisa" ini dipelihara
setelah berdosa dengan anak lembu emas (Keluaran 32)

* Kaleb dan Yosua dipilih di antara semua orang dari generasi yang di padang gurun untuk memasuki Tanah Perjanjian (Bilangan 14:38)

* Elia diberi tahu bahwa Elohim menyediakan / mengawetkan 7.000 sisa yang masih setia selama kemurtadan nasional (1 Raja-raja 19:18)
   
* Yehezkiel diberitahu bahwa sisa akan dilestarikan dari Kerajaan Utara setelah penawanan mereka (Yehezkiel 37:19)
   
*Orang buangan yang kembali dari Babel adalah orang yang dipilih (Zakharia 8)

Hal ini dibuktikan lebih lanjut dalam Perjanjian Baru :

* Elohim memilih "Sisa ISRAEL" untuk menerima Mesias (Roma 11:5)
   
* Setelah Bait Elohim dihancurkan oleh Romawi, TUHAN masih melestarikan / memelihara "Sisa ISRAEL" yang terus sampai hari ini.
   
* Paulus berbicara tentang "Sisa ISRAEL" yang dipilih oleh anugerah Elohim (Roma 2:28 - 29; Roma 9:27; Roma 11:5) dan seorang "Manusia Baru" yang terdiri dari orang-orang Yahudi dan bangsa-bangsa lain yang dicangkokkan (Efesus 2:15).

Sangat penting untuk menyadari bahwa REMNANT THEOLOGY memahami bahwa GEREJA "dicangkokkan ke dalam" atau "ditempatkan" pada sisa-sisa ISRAEL, dan bukan sebaliknya.

Photobucket

Perbedaan inilah yang penting, sebab GEREJA hanyalah cabang-cabang yang dicangkokkan ke dalam "Pohon Zaitun" / ISRAEL sementara akar (Sisa-sisa ISRAEL) adalah yang menopang GEREJA (Roma 11:18).

Sementara itu hanya beberapa saja etnis Yahudi yang termasuk bagian dari sisa yang setia, semua bangsa-bangsa lain yang diselamatkan secara rohani bisa juga disebut Yahudi / Israel (Roma 2:29; Roma 4:16; Efesus 2:12 - 19), karena memiliki hak untuk mengambil bagian dalam perjanjian berkat-berkat yang diberikan untuk sisa ISRAEL.

Tetapi sangat penting untuk memahami bahwa GEREJA adalah dicangkokkan / dimasukkan ke dalam sisa ISRAEL yang dipilih, dan bukan sebaliknya! Dengan kata lain, seorang Yahudi tidak perlu memungkiri ke-Yahudian-nya untuk menjadi anggota GEREJA.

Dengan perbedaan ini, kita dapat menyelesaikan diagram yang mengungkapkan kemungkinan logis antara etnis ISRAEL dan Chosen Remnant (Sisa yang terpilih) :

Photobucket

Seseorang bisa :

* di luar hubungan dengan ISRAEL (yaitu, seorang kafir)

* dalam etnis ISRAEL berdasarkan kelahiran (keturunan Yahudi asli)
   
* dalam kedua etnis ISRAEL (yaitu, keturunan Yahudi asli) dan bagian dari Sisa yang setia (sebagai seorang Yahudi yang percaya kepada Elohim ISRAEL) atau
   
* seorang kafir yang mengambil bagian dari berkat-berkat yang diberikan kepada sisa ISRAEL yang setia.

POHON ZAITUN DAN SISA YANG DIPILIH OLEH ANUGERAH

Pernyataan Paulus bahwa "tidak semua orang yang berasal dari ISRAEL adalah orang ISRAEL" (Roma 9:6) berarti bahwa seseorang bisa menjadi etnis keturunan ISRAEL, tetapi bukan menjadi bagian dari sisa ISRAEL yang telah dipilih oleh Tuhan untuk "Selamat di dalam Mesias".

Dalam Roma 9:1 - 31, Paulus mengungkapkan keinginan hatinya untuk melihat seluruh ISRAEL datang memahami kebenaran keselamatan seperti yang diberikan melalui Yesus, walaupun dia secara khusus menyebutkan bahwa sisa yang setia selalu ada.

Kemudian Paulus secara eksplisit menanyakan pertanyaan apakah urusan Tuhan telah "selesai" dengan etnis ISRAEL, kemudian dia sendiri menjawab :

"Maka aku bertanya: Adakah Elohim mungkin telah menolak umat-Nya? Sekali-kali tidak! Karena aku sendiripun orang ISRAEL, dari keturunan Abraham, dari suku Benyamin. ELohim tidak menolak umat-Nya yang dipilih-Nya. Ataukah kamu tidak tahu, apa yang dikatakan Kitab Suci tentang Elia, waktu ia mengadukan Israel kepada Elohim : "Tuhan, nabi-nabi-Mu telah mereka bunuh, mezbah-mezbah-Mu telah mereka runtuhkan; hanya aku seorang dirilah yang masih hidup dan mereka ingin mencabut nyawaku." Tetapi bagaimanakah firman Elohim kepadanya? "Aku masih meninggalkan tujuh ribu orang bagi-Ku, yang tidak pernah sujud menyembah Baal." Demikian juga pada waktu ini ada tinggal suatu sisa, menurut pilihan kasih karunia". (Roma 11:1 - 5)

Paulus memberikan analogi dari Pohon Zaitun untuk menggambarkan bagaimana GEREJA dicangkokkan ke sisa-sisa ISRAEL. Cabang alami yang terputus mewakili bangsa ISRAEL yang tidak percaya, sementara "tunas zaitun liar" dicangkokkan di antara yang lain mewakili bangsa-bangsa lain yang datang kepada iman di dalam sang Mesias.

Metafora ini dengan jelas menunjukkan bahwa "tunas zaitun liar" (bangsa-bangsa lain yang percaya) ditempatkan di dalam cabang-cabang yang tersisa di pohon (Yahudi yang percaya), yakni Pohon Zaitun, dengan kata lain, gambaran perjanjian program penyelamatan Elohim berdasarkan atas kesetiaan-Nya kepada ISRAEL.

Paulus juga menyatakan bahwa pemulihan cabang yang patah masih berada dalam kekuasaan dan tujuan utama Elohim (Roma 11:23 - 24), sementara itu bangsa ISRAEL "masih mengeras" sampai semua "tunas zaitun liar" telah dicangkokkan ke Pohon Zaitun (Roma 11:25), dan kemudian "seluruh ISRAEL akan diselamatkan" (Roma 11:26).

Ternyata benar bahwa bangsa ISRAEL telah menolak Mesias yang dijanjikan kepada mereka (suatu bentuk "pengerasan ISRAEL" - Roma 11:25), Paulus menghibur dirinya dengan mencerminkan bahwa tidak semua keturunan Abraham yang secara fisik akan mewarisi perjanjian dari berkat-berkat yang TUHAN berikan. Abraham mempunyai dua anak laki-laki, yang dipilih adalah Ishak (bukan Ismail); dan Ishak juga mempunyai dua anak laki-laki, yaitu yang dipilih adalah Yakub (bukan Esau). Dengan kata lain, walaupun Ismail dan Esau adalah keturunan fisik Abraham, mereka tidak terpilih untuk menjadi pewaris dari berkat Elohim. (Roma 9:6 - 8)

Memang, mengenai kasus Yakub dan Esau, Paulus melanjutkan dengan mengatakan bahwa "meskipun mereka belum dilahirkan dan belum melakukan apa pun yang baik atau buruk - supaya rencana Elohim diteguhkan mengenai pemilihan, bukan karena perbuatan, tetapi karena panggilan-Nya (Roma 9:11), dikatakan kepada Ribka, "yang lebih tua akan menjadi hamba yang lebih muda." Paulus kemudian mengutip dari Maleakhi 1:2 - 3, "Aku mengasihi Yakub, tetapi membenci Esau."

Paulus kemudian bertanya apakah Elohim tidak adil. Paulus menjawab hal ini dengan tegas mengatakan bahwa ADONAI, Elohim Israel berdaulat dan dapat memilih untuk menunjukkan rahmat dan karunia kepada siapa yang dikehendaki dan Dia kehendaki. Dengan kata lain, Elohim memiliki hak untuk menentukan lebih dulu hasil sesuai dengan tujuan baik-Nya, dan umat manusia hanya menerima aturan-Nya di alam semesta.

Menjadi keturunan Abraham secara fisik tidaklah cukup untuk menjadi bagian dari keluarga Elohim, karena hanya anak-anak dari janji yang dihitung sebagai pilihan Tuhan. Dan bahkan termasuk bangsa-bangsa lain, sebagaimana nabi Hosea ungkapkan: "mereka yang bukan umat-Ku akan Kusebut umat-Ku" (Roma 9:25 - 27 & Hosea 1:10).

Dan nabi Yesaya juga berseru tentang ISRAEL : "Sekalipun jumlah anak ISRAEL akan seperti pasir di laut, namun hanya sisa-sisa dari mereka akan diselamatkan"

Paulus mengakhiri garis pemikiran ini dengan mengatakan bahwa mereka yang percaya dalam janji keselamatan Elohim melalui Mesias telah mencapai kebenaran karena iman, tetapi orang-orang yang mengejar kebenaran mereka sendiri berdasarkan hukum tidak akan pernah berhasil mencapai tujuan itu (Roma 9:30 - 31), karena Yesus sendiri adalah "TUJUAN dari HUKUM untuk kebenaran" untuk semua orang yang percaya.

Photobucket

RINGKASAN DAN KESIMPULAN
---------------------------------------------

Untuk saat ini hanya ada 3 pilihan dasar teologis mengenai hubungan antara GEREJA dan ISRAEL yakni : REPLACEMENT THEOLOGY, SEPARATION THEOLOGY dan REMNANT THEOLOGY.

SEPARATION THEOLOGY, dengan keras membedakan bangsa ISRAEL dengan GEREJA, menyiratkan bahwa ada tiga kelompok masyarakat yang berbeda di bumi yakni: orang-orang Yahudi, orang-orang kafir, dan GEREJA (yang terdiri orang Yahudi dan bangsa-bangsa lain dan dibentuk menjadi "satu manusia baru "). Oleh karena itu, Yahudi dianggap sebagai properti / status yang diawetkan selamanya, maka dari itu status seorang Yahudi yang juga anggota GEREJA tersebut dikaburkan. SEPARATION THEOLOGY juga membuat GEREJA acuh tak acuh terhadap status bangsa ISRAEL dalam zaman sekarang ini. Perjanjian dan berkat yang dibuat kepada bangsa ISRAEL tidak dapat diterapkan secara langsung kepada GEREJA. Dalam prakteknya ini dapat memiliki efek tanpa disadari meminimalkan relevansi Perjanjian Lama Kitab Suci.

REPLACEMENT THEOLOGY didasarkan pada pandangan "Superioritas". GEREJA mengambil prioritas di atas suku ISRAEL, dan mengklaim bahwa GEREJA menggantikan bangsa ISRAEL dalam bentuk sisa yang percaya. Setelah Yesus datang, hanya orang-orang Yahudi yang masuk agama Kristen adalah sah "ISRAEL milik Elohim." GEREJA menjadi sombong rohani terhadap ISRAEL.

REMNANT THEOLOGY, memahami bahwa GEREJA adalah ciptaan baru yang dicangkokkan ke dalam perjanjian-perjanjian dan berkat-berkat yang diberikan kepada She'arit Yisrael (Sisa ISRAEL) :

REPLACEMENT THEOLOGY
Replacement Theology


REMNANT THEOLOGY
Remnant Theology

Seperti yang Anda lihat, perbedaan-perbedaan mengenai identitas "Sisa" mengarah ke interpretasi yang berbeda mengenai identitas GEREJA.

Jika "sisa ISRAEL" dianggap sebagai "GEREJA", maka REPLACEMENT THEOLOGY akan tampak menarik. Namun, jelas bahwa EKKLESIA Yesus adalah sesuatu yang "melebihi dan di atas" sisa ISRAEL (She'arit Yisrael), dan sebagian besar teolog REPLACEMENT THEOLOGY tidak berusaha untuk menerjemahkan kata EKKLESIA (sebagaimana ditemukan di dalam LXX) secara harfiah merujuk kepada "GEREJA" yang Paulus tulis dalam surat-suratnya. Memang, fakta yang menyedihkan bahwa sebagian besar teolog ini menggunakan terjemahan Yunani dari Tanakh, daripada memeriksa teks yang Ibrani asli, sehingga dalam Perjanjian Baru penggunaan kata "EKKLESIA" berarti "GEREJA" dalam Alkitab bahasa Indonesia kita.

Jika ISRAEL digantikan oleh GEREJA (REPLACEMENT THEOLOGY) sebagai "sebagai umat pilihan Elohim di bumi" tentu saja Islam juga mengklaim bahwa mereka telah "menggantikan" Israel sebagai umat pilihan di bumi, inilah yang masih menjadi permasalahan, maka jelas bahwa REMNANT THEOLOGY adalah yang paling akurat dari pandangan-pandangan ini.

Satu konsekuensi dari perspektif ini adalah bahwa orang Kristen bukan Yahudi harus kembali ke akar Yahudi dari iman mereka dan menunjukkan kasih dan penghargaan mereka untuk ISRAEL.

Metafora pohon zaitun menunjukkan dengan jelas bahwa GEREJA memang dimasukkan / dicangkokkan ke dalam sisa ISRAEL. GEREJA non Yahudi harus bertobat terkait dengan sikap arogan terhadap orang-orang Yahudi dan mengungkapkan rasa syukur yang mendalam kepada Elohim untuk pelestarian yang ajaib kepada mereka selama berabad-abad. Selain itu, GEREJA non Yahudi harus berdiri dengan bangsa ISRAEL dengan mempertimbangkan mereka sebagai "saudara-saudara," yaitu, mereka yang mengambil bagian dalam TUHAN Yesus Kristus. Karena "karunia dan panggilan Elohim tidak dapat dibatalkan" (Roma 11:29), dan jika ISRAEL menolak berarti perdamaian bagi dunia (Roma 11:13 - 15).

Rencana TUHAN yang menyeluruh adalah untuk menebus orang Yahudi dan bangsa-bangsa lain melalui perjanjian tanpa syarat dan janji-janji yang diberikan kepada leluhur bangsa ISRAEL.

GEREJA non Yahudi bukan menggantikan ISRAEL (REPLACEMENT THEOLOGY); juga tidak berada di luar Israel (SEPARATION THEOLOGY); tetapi lebih dimasukkan / dicangkokkan dalam sisa ISRAEL yang setia (REMNANT THEOLOGY).

Rom 11:17 
Karena itu apabila beberapa cabang telah dipatahkan dan kamu sebagai tunas liar telah dicangkokkan di antaranya dan turut mendapat bagian dalam akar pohon zaitun yang penuh getah,

Rom 11:18 
janganlah kamu bermegah terhadap cabang-cabang itu! Jikalau kamu bermegah, ingatlah, bahwa bukan kamu yang menopang akar itu, melainkan akar itu yang menopang kamu.

Amen. 

Tuesday, January 20, 2009

Israel and the Church - Replacement Theology

Shalom,

First I must inform, that Replacement Theology is a false doctrine. Why? You are about to know why it is.

When studying the Jewish roots of Christianity, certain questions often arise regarding the nature of the "Church," the nature of "Israel," and the relationship between them.

Do Gentile Christians become "Jewish" on account of their relationship to Jesus? 

Does the "Church" somehow replace the Jewish people in God's plan as the "new Israel"

Exactly how should we understand the relationship between the Church and Israel today?

In general, Christian theology has developed three different interpretative systems that attempt to answer such questions :


1.
Replacement Theology
The Church and Israel refer to the same group of people.


2.
Separation Theology
The Church and Israel refer to different groups of people.
  
3.
Remnant Theology
The Church and Israel overlap in some manner.

=============================================================

Today, we're going to examine Replacement Theology.

The first theological option regarding the relationship of the Gentile Church and Israel is to claim that the "Church" and "Israel" actually refer to the same group of people.

More specifically, since Israel rejected Jesus as the Messiah, the ekklesia of Jesus is now the recipient of all the covenantal blessings and promises of God. This is the "mainstream" view of most Christian theologians today.





Replacement Theology claims that the Church is a "new and improved" Israel, better than the older tribal "version" revealed in the Old Testament. 

In ancient times the "church" (ekklesia, ek- + kaleo, "called out ones") was indeed national Israel, but after Jesus' universal message of love was rejected by the Jews, God transferred all the covenants and promises from them to the Christian Church. 

The "New Covenant" given to Israel (Jer. 31:31-37) was therefore fulfilled through the Christian Church. 

This view is called "Replacement Theology" because the Christian Church now replaces national Israel as the true ekklesia of God.

The Replacement Theology believers, they always refer to Rom 9:6 as the proof.

Rom 9:6  KJV
Not as though the word of God hath taken none effect. For they are not all Israel, which are of Israel: 

Because of their disobedience (the rejection of the "new covenant" and the rule of Jesus), Israel is no longer a "chosen nation" with any special status or future. 

As Martin Luther said, since the Jews rejected Christ, the only thing left to them are the curses found in the Bible, but none of the blessings. Therefore all the promises about Israel being regathered, restored, and delivered from her enemies in a coming Kingdom Age are to be allegorized (and transferred) to the Church.

But Martin Luther forgot about the type of covenant between God and Israel. It is an everlasting covenant.

Gen 17:7  KJV
And I will establish my covenant between me and thee and thy seed after thee in their generations for an everlasting covenant, to be a God unto thee, and to thy seed after thee.

And that covenant went through Jacob.

Gen 35:10  KJV
And God said unto him, Thy name is Jacob: thy name shall not be called any more Jacob, but Israel shall be thy name: and he called his name Israel.
Gen 35:11  KJV
And God said unto him, I am God Almighty: be fruitful and multiply; a nation and a company of nations shall be of thee, and kings shall come out of thy loins;
Gen 35:12  KJV
And the land which I gave Abraham and Isaac, to thee I will give it, and to thy seed after thee will I give the land.

Martin Luther forgot about this. And since Jesus now (symbolically) reigns from the throne of David, the Church's mission is to "usher in" the Kingdom of God upon the earth by means of the worldwide spread of the gospel.  At the end of the age, Jesus will return to separate the "sheep from the goats" (Mat 25:32-33) and the eternal kingdom of God will prevail forever.

Please note :
One consequence of this view is that the Church is not essentially new, since it existed before the time of Jesus as the company of saints who trusted in the God of Israel for their salvation (the faithful remnant).

Since the Church is actually a sort of "reformed" or "renewed" Israel, it might be more appropriate to consider this view as "Renewal Theology," because it implies that the Church is a renewed form of faithful Israel.

Paradoxically, this leads to the conclusion that Israel needs to be "grafted back" into the Olive Tree of the Church, rather than understanding that the Gentile Church is composed of "wild olive shoots" that are grafted into the covenants given to Israel (Rom 11:17-23; Eph 2:12).


The Case for Replacement Theology

The case for Replacement Theology is often made along these lines : "Israel" refers to all those who obey the New Covenant of Jesus, who are thereby called the "true children of Abraham" and heirs according to promise (Gal 3:29).

In spiritual terms, the Church is now "the Israel of God" (Gal. 6:16) and is composed of those Jews and Gentiles who are regenerated by means of their faith in Jesus (Mat 3:9, Luk 3:8, Gal 3:6, 9).

National Israel was really just the "seed" of the future Church, which will eventually restore the entire earth under God's forthcoming dominion (Mal 1:11, Rom 4:13).

The Church is now the heir and trustee of God upon the earth (Gal 3:29). Jesus Himself taught that the Jews would lose their spiritual privileges and be replaced by "another people" (Mat 21:43). After the Church came into existence on the Day of Pentecost, God was "finished" with national Israel, and today, a "true Jew" is anyone born of the Spirit, whether he was physically born Jewish or not (Rom 2:28-29). All the promises made to Israel in the Old Testament are now the possession of the Church of Jesus, who now (symbolically) reigns on David's throne (2 Cor 1:20).

In its more outspoken forms, Replacement Theology is aggressive and even dominionist in its outlook, since it alleges that the Church replaces Israel in the sense of overtaking her by spiritual succession (the theological jargon for this is called "supercessionism," , the idea that Israel has been "superseded" by the Church).

Since the Jews are no longer God's chosen people, God does not have any unique future plans for the nation of Israel. The Church, not Israel, is now the "apple of God's eye" (Deu 32:10; Zec 2:8).

In other words, the term "Israel" denotes only those who are Christians, and conversely only Christians are the inheritors of the covenants and blessings given to Abraham and his descendants. In summary, the Church is Israel and Israel (spiritually understood) is the Church.

Advocates of Replacement Theology include the Roman Catholic Church, the United Methodist Church, the Evangelical Lutheran Church of America (ECLA), the Presbyterian Church, the Lutheran Church (Missouri Synod), the Episcopal (and Anglican) Church, the Greek Orthodox Church, the United Church of Christ, the Mormons, the Jehovah's Witnesses, and of course Islam, which likewise claims that it has "replaced" Israel as God's chosen people on the earth.

Perhaps it should be noted here that some varieties of Jewish theology return the favor of Christian replacement theologies by maintaining that Israel will one day triumph over the Church (understood collectively as "Gentiles," "Christians," or more generally as the idolatrous descendants of Esau).

According to such Jewish eschatology, in the days of the Mashiach the LORD will establish Jerusalem as the central point of the world, and all of the scattered Jewish people will be permanently restored to their ancient Promised Land. All of the literal promises given to Abraham, Isaac, Jacob, and confirmed by the Jewish prophets will be literally fulfilled. All of the ancient enemies of the Jewish people (including the descendants of Esau) will be vanquished, and Israel will enter a Golden Age of peace upon the earth (this is often summarized by certain orthodox groups such as Chabad with the phrase, "Moshiach Now!").

As we will now see, Replacement Theology draws its theoretical support from the faulty foundation known as Covenant Theology.


The Faulty Foundation: Covenant Theology

Most replacement theologians are also advocates of so-called "Covenant Theology," a rather speculative theological system that posits several overarching "covenants" that God made with "all of creation."

According to this theological system, first there was the "Covenant of Works" in which God promised Adam eternal life if he would obey His commandments.  However, since Adam broke the covenant through disobedience, God established the "Covenant of Grace" in which He would graciously save Adam and Eve (and their descendants) from the penalty of death.

The salvation process itself, however, would be based on a foreordained and secret "Covenant of Redemption," in which God the Son agreed to be incarnated as the dying Redeemer of the fallen human race. 

All of the biblical covenants -- for example, the covenant made with Abraham, Moses, and King David -- are really "aspects" of the overarching "Covenant of Grace" that God enacted after the fall of mankind.

Covenant Theology is in error for a number of reasons.

First of all, this abstract system of covenants ("Works-Grace-Redemption") is not based on an inductive study of the Scriptures themselves (since they do not mention these covenants), but is determined from (invalid) deductions made from the New Testament which are then "read back" into the language of the Old Testament. As we will see, the primacy given to Gentile theologians who were influenced by Greek philosophy/theology greatly influences the reading of the Old Testament for most of these theologians.

For example, the Torah reveals that the covenant made with Abraham and his descendants is clearly unconditional in nature. The language of the relevant texts is simply unambiguous (see Gen 12:1-7; 13:14-17, 15:1-21; 17:1-27;18:17-19; 22:15-18; 50:24; Exo 2:24; Deu 9:5-6; 4:31; 2 Kings 13:23; Micah 7:18-20).

Moreover, the covenant ritual itself was expressed unilaterally (Gen 15), and subsequent testimony -- even in the New Testament -- corroborates its unconditional nature (see Luk 1:54-5; Luk 1:68-74; Act 3:25-26; Act 13:26-25; Rom 11:1-2; 2 Co. 11:22; Heb 6:13-20, etc.).

However, based on preconceived (a apriori) theological assumptions, the unconditional nature of this covenant is transformed into being a conditional one that now does not mean what the Scriptures plainly state.

Now while it's true that we cannot completely "bracket" our understanding of the New Testament when we are reading the Old, it is a poor exegetical principle not to honestly "listen to the text" of Scripture itself, in light of its historical context, while using the normal rules of grammar ("plain sense").

And it is simply preposterous to take the promises explicitly given to Abraham and to ethnic Israel and reinterpret them as promises given to the Church.  In order to rationalize this approach, these theologians, influenced by the Gentile theologians of the past, are forced to use allegory and Greek symbolism in order to apply the terms of the covenant to refer solely to the Church.

Of course this exegetic approach works the other way around, too, as can be seen when the New Testament is forced to read in a way that is not consonant with the plain sense given in the Old Testament.  An example of this sort of disingenuous methodology is found in the translation given to the Greek word kai ("and") in Galatians 6:16 ("as many as walk according to this rule, peace be on them, and mercy, and upon the Israel of God"), which incidentally is the only place in the entire New Testament where the word Israel is not explicitly used to refer to ethnic Israel.

Covenant theologians conclude that the kai before the term "Israel of God" is best translated "even" (as the NIV translates), however most Greek scholars have noted that this would be an anomalous usage and is without grammatical warrant found in the context itself (the argument against the Judaizers).

Indeed, the plain reading is simply that Paul uses "and" to pronounce a blessing on believing Gentiles and believing Jews in the church, not to equate national Israel with the Church.

Yet another flaw with Covenant Theology is that it is too simplistic.  To claim that the covenant made with Abraham is "essentially the same" covenant as that which was made with Moses at Sinai or with King David at Jerusalem is unwarranted reductionism.

These biblical covenants are not progressive revelations of a non-biblical "Covenant of Grace," but are concrete terms of agreement made by the LORD God of Israel Himself with specific individuals. This same sort of reductionism is also revealed in the New Covenant promised to Israel in the days to come (Jer 31:31-37) and of which the Church presently partakes. 

Covenant Theology must posit the "Church" as something that predated the coming of Jesus, as being composed of the "elect of God" from all ages and times.

However, Jesus told Peter that upon the rock of his confession he would build His church (Mat 16:18), and Paul spoke distinctly about the "mystery" of the Church in God's prophetic plan for the ages (Eph 3:9; Col 1:26).

Covenant Theology must force the plain reading of the biblical covenants into the mold of its system, rather than letting the texts of Scripture speak for themselves.

Another flaw with Covenant Theology is its use of the allegorical method of interpretation which forces the literal denotation of a term (such as "Israel") to be either not a true denotation or one of a different denotation. In other words, it is the corresponding spiritual reality which is the "real" or ultimate meaning of a term of a given passage, not the grammatical-historical understanding of the term (for more on this, see below).

The misunderstanding of the Abrahamic, Mosaic, Davidic, and New covenants inevitably leads Covenant theologians to misunderstand the nature of the Church itself as a mystery "hidden" in the purposes of God but later revealed in the age of the New Testament. 

Contrary to their view that the "Church" is the elect of God "from all ages," the New Testament clearly teaches that it began with the ministry of Jesus Himself (Mat 16:18).

Moreover, the Church could not come into existence without Jesus' death, resurrection, and ascension (Eph 1:20-23; Col 1:28). Further, the church is composed of those members who have been baptized into the body of Christ through the agency of the Holy Spirit (1 Cor 12:13; Acts 1:8; 2:38).

Paul's teaching about the "mystery" of the body of Christ means that it was not revealed in the Old Testament Scriptures (Eph 3:3-6; Col 1:26).

Finally, the New Testament never uses the terms "Israel" and "Church" to refer to the same group of people (1 Cor 10:32; Eph 2:11-16, etc.). Even the "seed of Abraham" is never called "Israel" in Paul's writings to the Galatians. As we will see (below), it is a category mistake to infer that the ekklesia of Jesus is identified with the remnant of Israel.

Most seriously, Covenant Theology insinuates that God changed His mind about national Israel, and that the olam (eternal) nature of His covenantal promises given to them are subject to nullification.  But if God changed His mind regarding national Israel, what prevents Him from changing His mind regarding the Church and its future?

The Church must remember that it is graciously grafted into the Olive Tree of Israel and made partakers of the covenants given to Israel.

In fact, the only reference to the New Covenant (brit chadashah) in the entire Old Testament is found in Jeremiah 31:31-37, where it is explicitly stated that the Jewish people will continue to exist as a nation as long as there is a sun and moon seen in the sky! This is further confirmed by Paul's teaching about national Israel found in Romans 9-11.

Replacement theology is a dangerous and false doctrine that has consistently led to antisemitism and false eschatological views. Just as we believe that God will keep His promises to the Church, so we believe He will keep His promises to national Israel - including the future restoration of Israel as the "head of the nations" during the kingdom of God on earth.

When the LORD Jesus comes back to earth, He is heading straight to national Israel, and to Jerusalem in particular. There He will be finally received as Israel's King and Savior and will rule during the millennial kingdom.

The Fourth (i.e., Millennial) Temple will be built (Ezekiel 40-48) and the nations will come to Jerusalem to pay homage to the LORD God of Israel.  All the nations will celebrate the feast of Sukkot, and those that refuse will be plagued with drought (Isaiah 4:2-6; Zechariah 14:17-18).

Next we'll be discussing the Separation Theology.

Blessing,
Andre